Kamis, 15 Desember 2011

IBADAH YANG NYATA DALAM KEYAKINAN

Sering kali orang menilai keyakinan seseorang dengan kacamata keyakinannya ( dalam hal ini satu agama atau keyakinan) Kalau pemahaman atau cara menafsirnak Kitab Sucinya tak sepaham sering kali di diskriminasikan dengan kata ALIRAN, yang tentunya di anggap menyimpang.bagi kelompok mereka. Sampai kapankah kita akan dapat menerima perbedaan sebuah keyakinan dengan tanpa menganggap yang lain salah?? bukankah Tuhan tidak pernah mempersulit dengan cara-2 yang rumit untuk mendekatkan diri kepada -Nya.Cukupkah kita pergi ke tempat suci pada hari yang ditentukan dan memberikan persembahan baik materi maupun yang lain ke tempat di mana kita melakukan ritual ibadah?? Orang begitu terlihat alim ketika berada di tempat suci namun tak bisa di sangkal ketika mereka kembali di kehidupan bermasyarakat, apa yang nampak tadi akan sirna karena status.Apakah sudah tak penting lagi ibadah yang nyata dalam keyakinan , bagaimana kita dapat menghargai,menghormati dan takut akan Tuhan yang tidak kelihatan kalau dengan sesama saja kita sering memandang sebelah mata. Beribadah ke tempat suci adalah wajib namun yang terpenting adalah bagaimana kita mempraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Sabtu, 02 Januari 2010

Hati Seorang Murid

“Barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya.” (Markus 10:44)

Shallom saudaraku, komunitasku kaum awam.

Firman Tuhan di atas, memberi pemahaman bagi kita bahwa bila kita ingin menjadi yang terkemuka diantara sesama, syaratnya harus menjadi hamba bagi semua orang.

Secara manusiawi, syarat tersebut sungguh mengerikan, sebab untuk menjadi hamba bagi seorang saja sudah sulit, apalagi bagi semua orang.
Hanya orang yang benar-benar memiliki hati seorang hamba, dan dimampukan Tuhan menghambakan diri kepadaNya.

Tuhan tidak punya orang terkemuka dan tidak perlu orang yang merasa dirinya terkemuka. Tetapi kita sendiri yang sering menjadikan orang-orang merasa terkemuka bagi Tuhan. Mereka, para pengkhotbah, para pembicara, para musisi, kita puji, kita sanjung sebagai orang-orang terkemuka dan terhormat dihadapan Tuhan.

Sedihnya, sebagian pelayan Tuhan dan mungkin juga kita justru terbuai dan menikmati sanjungan, pujian sebagai orang-orang terkemuka di hadapan Tuhan. Sungguh Memalukan.

Memang sebagai orang percaya, sudah seharusnya kita saling menghormati, tetapi tidak seharusnya menjadikan orang lain dan diri kita sendiri merasa sebagai orang terkemuka dan terhormat dihadapan Tuhan.

Saudaraku, apa yang di dimaksud dengan terkemuka dalam firman ini ?
Sudah barang tentu, pasti terkemuka dalam hal melayani pekerjaanNya, bukan terkemuka dalam hal lain.

Camkan ini
Dikisahkan oleh seorang pembicara di sebuah retret keluarga. Pada suatu sore ketika dia mengunjungi sebuah keluarga, salah seorang putra mereka bertanya “Apakah Bapak salah satu orang terkemuka ?” Sejenak pembicara itu termenung, kemudian menjawab “Memang sebagian orang mungkin berpikir demikian, tetapi kita tahu yang sebenarnya siapa saya ini. Saya adalah orang yang jatuh bangun dalam kelemahan. Hanya karena kasihNya, saya dilayakkan dan dimampukan melayani Dia.”
Sikap rendah hati pembicara tersebut, mencerminkan bahwa dia adalah orang percaya yang memiliki hati seorang hamba.

Bagaimana dengan kita? Apakah sudah memiliki hati seorang hamba? Bila sudah, konsistenlah ! Bila belum mulailah dari sekarang.

Selagi hari masih siang jadilah terkemuka dalam pelayanan dan memiliki hati seorang hamba.


Tuhan Memberkati